Depok, Aspirasi.net– Forum Komunitas Hijau (FKH) Nusantara yang diinisiasi aktis
lingkungan meluncurkan Wakaf Ruang Terbuka Hijau (Wakaf RTH) di Joglo
Nusantara, Pengasinan, Depok. Kegiatan ini merupakan bagian dari kampanye
pertobatan ruang, yakni sebuah upaya penyadaran kolektf tentang pentingnya
penguatan kedaulatan ruang sebagai representasi NKRI (Negara Kesatuan Republik
Indonesia).
Kampanye Wakaf RTH berawal dari keprihatnan tentang minimnya
Ruang Terbuka Hijau. Ditambah lagi kurangnya keberpihakan pemerintah
kota/kabupaten dalam kebijakan dan strategi pemenuhan RTH yang kini di
kabupaten/kota di seluruh Indonesia hanya berada di kisaran 9-11%. Padahal
Undang Undang No. 26 tahun 2007 mewajibkan setap kota/kabupaten untuk memenuhi
kebutuhan Ruang Terbuka Hijau sebesar 30% (tga puluh persen) dari total luas
wilayahnya.
Karenanyalah Wakaf RTH akan menjadi jawaban sekaligus solusi
dari ‘keterbatasan’ yang selalu menjadi ‘black embek’ dalam pemenuhan RTH.
Wakaf RTH mengajak sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat untuk ikut serta
dalam pemenuhan RTH melalui pemanfaatan lahan-lahan atau pekarangan rumah
mereka yang tdak dimanfaatkan (mengganggur). Sekaligus komitmen untuk tdak
menambah bangunan di atasnya. Strategi kampanye wakaf RTH juga meliput
pembuatan komitmen swasta (private) untuk tetap mempertahankan RTH-nya sampai
kapanpun, atau mengalihfungsikan suatu kawasan yang belum ditetapkan sebagai
RTH menjadi Ruang Terbuka Hijau Publik untuk Pemerintah Kota.
Aksi Wakaf RTH mewakili generasi masa depan untuk mengetuk
pintu hat dan nurani semua pihak agar menyegerakan pemenuhan ruang-ruang
partsipasi dan interaksi sebagai ajang tumbuh-kembang anak-anak generasi
penerus bangsa ini. Kedepan, Wakaf RTH yang digagas FKH Nusantara ini akan
menjadi upaya untuk mempertahankan kedaulatan negara dan kesejatan bangsa
Indonesia yang berpijak pada ruang-ruang kebersamaan.
“Tanpa kedaulatan ruang akan sangat sulit bagi manusia untuk
secara mandiri mengukuhkan eksistensinya sebagai mahluk yang menerima mandat
dari Tuhan sebagai ‘pengelola bumi’. Karena kemandirian atas ruang akan sangat
menentukan kualitas hidup dan tanggung jawab manusia”, terang Heri Gonku
pemangku FKH di sela acara diskusi Wakaf RTH 12 Maret 2018 di Joglo Nusantara
Sawangan Depok.
Petunjuk mendasar agar manusia terhindar dari kebodohan,
kezaliman, dan tentunya mutilasi ruang yang menjauhkan kemanusiaan dari
lingkungan alaminya. Local wisdom yang juga mengajarkan pentingnya cara berikir
menyeluruh dalam penataan ruang.
Heri juga menegaskan dalam penataan ruang tdak boleh
menggunakan cara pandang parsial yang akan menabrak “koridor ekologi atau koridor
hijau”. Ibarat satu badan, penataan ruang perlu melihat anggota tubuh lainnya.Jangan
sampai perbaikan di satu wilayah mengorbankan wilayah lainnya.
“Tata ruang adalah satu kesatuan organ kota yang tidak boleh
termutilasi, artinya kesemuanya harus saling mengkait dan saling melengkapi”. Tandasnya.andra

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.