SALAKA NAGARA, Wahanten dan Baduy,….. Pandeglang, Aspirasi.net – Sebagaimana yang
dikemukakan oleh Dr. Moh. Ali Fadillah  ,
bahwa “Sejarah Banten harus dikaji secara keseluruhan, fase demi fase, termasuk
fase kolonialisme, karena di Banten telah bercokol penjajah masa itu. Daerah Banten
dibentuk bukan hanya mewakili karakter masa Kesultanan Banten atau ‘Banten
Lama’. Tapi, masa-masa sebelum itu pun era prasejarah, sangat menentukan jati
diri Banten yang sebenarnya”.
Saya bersama Team EWN, telah
melakukan penelitian dan pengakajian ihwal Sejarah Banten. Hasilnya, diuji
kelayakan ilmiahnya oleh Tim Pakar: Prof. Dr. H. Ayatrohaedi (Filolog UI),
Prof. H. Dr. Hassan Mu’arif Ambary (Arkeolog UI), Prof. Dr. H. Edi S. Ekadjati
(Filolog UI) dan Dr. Hassan Djafar (Arkeolog UI).
Dalam buku Sejarah
Banten setebal 256 halaman, dikemukakan bahwa sejak tahun 132 Masehi (abad ke-2
Masehi), di wilayah Banten telah berdiri Kerajaan Salakanagara (Salaka = Perak dan Nagara = Kota). Hal
itu berdasarkan pembuktian filologis naskah kuno Cina pada jaman dinasti Han, yang
memberitakan, “Bahwa raja Ye-tiao bernama Tiao-pien, mengirimkan utusannya ke
Cina dalam tahun 132 Masehi”. Yeh-tiao = Yawadiwu = Yawadwipa. Sedangkan
Tiao-pien (menurut Prof. Dr. H. Ayatrohaedi), “Tiao” dalam bahasa Cina, sama
artinya dengan “Dewa” dalam bahasa Sansekerta. Kemudian “Pien” artinya
“Warman”. “Tiao-pien” artinya “Dewawarman”.
Kemudian, seorang
akhli Ilmu Bumi Mesir dari Yunani, Cladius Ptolomeus, dalam bukunya Geographia
(yang ditulis pada tahun 150 Masehi), memberitakan, “Bahwa di dunia timur
terdapat Iabadio terletak Argyre”. Iabadio dimaksud adalah Yabadiu atau Pulau
Jawa. “Argyre” dalam bahasa Yunani, sama dengan Salakanagara (salaka=perak;
nagara=kota) dalam bahasa Sansekerta.
Sumber naskah
Cirebon abad ke-17 memberitakan pula, bahwa Dewawarman adalah pendiri
Salakanagara, merupakan raja pertama yang berkuasa dari tahun 132 Masehi hingga
tahun 168 Masehi. Ibukota Salakanagara adalah Rajatapura. Berdasarkan fakta
geografi dan arkeologi, TPBSB menduga bahwa Rajatapura terletak di kaki Gunung
Pulasari, di Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang.
Penelitian
selanjutnya dilakukan oleh pihak Balai Arkeologie Bandung yang dipimpin oleh
Dr. Moh. Ali Fadillah, dibantu oleh TPBSB. Hasil temuan sangat menakjubkan, Beberapa artefak, teracota dan pecahan keramik telah ditemukan di situs
Cihunjuran (Kecamatan Mandalawangi), yang diduga berasal dari masa prasejarah
hingga abad ke-17 Masehi.
Berdasarkan naskah
Cirebon abad ke-17 Masehi, dari cakal bakal Salakanagara (132-363 Masehi)
itulah, kehidupan masyarakat Banten berlanjut dan berkembang, di bawah naungan
panji kebesaran Tarumanagara (358-669 Masehi), Kerajaan Sunda (669-1482
Masehi), dan Kerajaan Pajajaran (1482-1521 Masehi).
Melalui penelitian
filologi dan arkeologi, ternyata kerajaan corak Hinduisme di belahan barat
Pulau Jawa, hanya berlangsung pada masa Salakanagara dan Tarumanagara saja.
Sedangkan pada masa Kerajaan Sunda dan Kerajaan (Sunda) Pajajaran, berdasarkan
kajian filologi naskah kuno Carita Parahiyangan, Sanghiyang Siksakandang
Karesin dan Amanat Dari Galunggung, sudah beralih agama. Sistem religi
dianutnya, menyembah dan memuja Hiyang Seda Niskala (Hiyang = Tuhan; Seda =
Sempurna; Niskala = Gaib).
Oleh karena itu, di Pakuan (Bogor) dan di Kawali
(Ciamis), bekas ibukota Kerajaan Sunda dan Kerajaan Pajajaran, tidak pernah
ditemukan indikasi pernah adanya candi-candi Hindu ataupun candi-candi Budha.
Oleh karena itu, merupakan kesalahan besar, bila menuduh Kerajaan Pajajaran
beragama Hindu ataupun Budha, tanpa bisa membuktikan di mana letak peninggalan
candi-candinya.
Identifikasi sistem
reilgi Kerajaan Sunda dan Kerajaan Pajajaran, secara hakiki ada kemiripan
dengan sistem religi masyarakat Sunda Wiwitan (= Sunda Awal) di Kabupaten Lebak
(yang dengan sinis kita sering menyebutnya sebagai orang Badui atau Baduy).
Menurut Prof. Dr. Yudhistira Garna, dalam sistem religi masyarakat Sunda
Wiwitan, hanya satu-satunya yang disembah dan dipuja, yaitu Batara Tunggal
(Batara = Tuhan; Tunggal = Satu = Esa). Di tanah Sunda Wiwitan (=Baduy), tidak
ditemukan indikasi peninggalan Hinduisme atau pun Budhisme. Bahkan yang membuat
kita takjub, mereka mempunyai nabi, yaitu Nabi Adam Alaihi Salam.
Kata “Banten” yang
dikiratakan dari kata “Ketiban Inten”, secara linguistis maupun filologis,
tidak bisa dipertanggungjawabkan! Kata “Banten” (menurut Prof. Dr. Ayatrohaedi)
dalam bahasa Sunda Kuno, merupakan penghalusan bahasa dari kata “Bali” (bali =
plasenta = tempat asal). Gejala linguistik seperti itu, terjadi pula pada kata
“Sari” menjadi “Santen”. Perbahasa Sunda “bali geusan ngajadi” (tempat asal
kelahiran), boleh jadi merupakan sebuah pengakuan halus, bahwa “Banten” itu
tempat asal kelahiran leluhur Sunda.
Kemudian, kajian
geografi membuktikan, tentang keberadaan “Ciwahanten” atau Sungai Wahanten,
yang dalam peta lama (1938) nampak membentang sepanjang 30 kilometer, dari
Gunung Karang hingga bermuara di laut utara. Kemungkinan, sebutan “Banten”
berasal dari nama sungai “Wahanten”. Sebab dalam dokumen naskah Cina ditulisnya
“Wan-Tan”. Baru di kemudian hari, pedagang Portugis mencatatnya sebagai
“Bantam”.
Ketika masa Kerajaan
(Sunda) Pajajaran, di “Banten” sudah ada dua kerajaan: Wahanten Girang dan
Wahanten Pasisir. Di dalam tradisi Kerajaan Pajajaran, setiap penguasa daerah
bawahannya, diberi gelar Pucuk Umun, seperti halnya sebutan Pucuk Umun
Sumedanglarang dan Pucuk Umun Kuningan di wilayah timur. Ternyata di wilayah
barat pun, sebutan Pucuk Umun, sama artinya dengan “pucuk pimpinan pemerintahan
daerah”.
Pucuk Umun Kerajaan
Wahanten Girang adalah Sang Adipati Suranggana. Sedangkan Pucuk Umun Kerajaan
Wahanten Pasisir adalah Sang Adipati Surasowan. Kedua Pucuk Umun tersebut,
adalah putera Sri Baduga Maharaja Pajajaran (1482-1521 Masehi), dari permaisuri
Kentring Manik Mayang Sunda.
Sang Adipati
Surasowan, mempunyai seorang puteri bernama Kawung Anten, berjodoh dengan
Syarif Hidayatullah, kemudian mempunyai anak laki-laki. Oleh kakeknya diberi
nama Pangeran Sebakingkin, oleh ayahnya diberi nama Hasanuddin. Dari peristiwa
ini, dapat ditarik kesimpulan, bahwa Sang Adipati Surasowan, sebagaimana
ayahnya, sangat toleran terhadap pemeluk agama Islam.
Dari alur darah
ibunda Kawung Anten, Hasanuddin adalah cicitnya Sri Baduga Maharaja Pajajaran
(Prabu Siliwangi). Dari alur darah ayahanda Syarif Hidayatullah, Hasanuddin pun
sama, sebagai cicit Sri Baduga Maharaja. Sebab, Syarif Hidayatullah, adalah
putera Larasantang (Hajjah Syarifah Muda’im) yang berjodoh dengan Walikota
Mesir Syarif Abdullah. Larasantang alias Hajjah Syarifah Muda’im, adalah
puterinya Sri Baduga Maharaja Pajajaran (Prabu Siliwangi) dari permaisuri
Subanglarang (alumni Pondok Quro, Pura Dalem Karawang, pemeluk Islam mazhab
Hanafi).
Larasantang alias
Hajjah Syarifah Muda’im adalah neneknya Hasanuddin. Sedangkan Larasantang
adalah adik kandung Pangeran Cakrabuana alias Haji Abdullah Iman. Pangeran
Cakrabuana adalah putera sulung Sri Baduga Maharaja Pajajaran (Prabu Siliwangi)
dari permaisuri Subanglarang, pendiri Kerajaan Islam Pakungwati Cirebon. Berdasarkan silsilah
keturunan, dari pihak ibu maupun dari pihak ayah, Hasanuddin memiliki alur
darah yang kuat, sebagai salah seorang Pangeran calon pewaris tahta Kerajaan
(Sunda) Pajajaran.
Ketika Pucuk Umun
Wahanten Pasisir, Sang Adipati Surasowan wafat, digantikan oleh puteranya, Sang
Arya Surajaya (kakaknya Kawung Anten, uwanya Hasanuddin). Pada masa ini, posisi
Syarif Hidayatullah sudah menjadi penguasa kedua Kerajaan Islam Pakungwati Cirebon,
menggantikan Pangeran Cakrabuana, dengan gelar Susuhunan Jati Cirebon (Sunan
Gunung Jati).
Kemudian Hasanuddin,
meneruskan posisi ayahnya, sebagai Ulama Besar penyiar Agama Islam di Wahanten
Pasisir, bergelar Syeh Maulana Hasanuddin. Pucuk Umun Wahanten
Girang, Sang Adipati Arya Suranggana, secara kekerabatan, masih “terhitung
kakeknya” Syeh Maulana Hasanuddin. Sang Adipati Arya Suranggana, adalah Pucuk
Umun pertama di Wahanten yang memeluk agama Islam. Sang Pucuk Umun Wahanten
Girang ini, muridnya Syeh Ali Rakhmatullah, Ulama Islam dari Campa, yang pernah
bermukim di Wahanten, sebelum kedatangan Syeh Syarif Hidayatullah. Oleh Ali
Rakhmatullah, Sang Adipati Arya Suranggana diberi nama gelar Ki Bagus Maulana.
Sesungguhnya, berdasarkan fakta sejarah, dialah tokoh pertama pemeluk agama
Islam di bumi Wahanten (Banten).
Pada tahun 1521
Masehi, Sri Baduga Maharaja Pajajaran (Prabu Siliwangi) wafat, digantikan oleh
puteranya, Prabu Sanghiyang Surawisesa. Ia kakak kandung Pucuk Umun Wahanten
Pasisir, Sang Adipati Surasowan. Sepeninggal tokoh besar Sri Baduga Maharaja,
di seluruh wilayah Kerajaan (Sunda) Pajajaran, terjadi gejolak politik
pemerintahan.
Sultan Demak (yang
berbesan dengan Susuhunan Pakungwati Cirebon), merasa khawatir oleh kemajuan
Kerajaan Wahanten Girang dan Wahanten Pasisir yang menguasai perairan wilayah
barat Laut Jawa, Selat Sunda dan Selat Malaka. Ditambah pula adanya hubungan
bilateral perjanjian dagang antara Pajajaran-Portugis 21 Agustus 1552.
Untuk melumpuhkan
niaga laut Wahanten Pasisir, Sultan Demak memerintahkan Senopati Fadillah Khan
(Falatehan alias Fatahillah alias Ki Fadil alias Tagaril), untuk memimpin
pasukan aliansi Demak-Pakungwati, untuk menyerang Kerajaan Wahanten Pasisir.
Serangan tersebut, didahului oleh Syeh Maolana Hasanuddin, yang mendapat
bantuan dari pasukan Wahanten Girang, atas perintah Sang Adipati Suranggana
alias Ki Bagus Maulana.
Digempur dari sejala
arah, akhirnya Keraton Wahanten Pasisir dapat dikuasai sepenuhnya, dan Sang
Adipati Arya Surajaya bersama kerabat keraton tewas binasa. Kemudian, atas nama
Susuhunan Jati Cirebon (Syarif Hidayatullah), Syeh Maulana Hasanuddin, oleh Panglima
Fadillah Khan diwisuda menjadi Adipati (Bupati) Wahanten Pasisir. Kemudian,
atas inisiatif Ki Bagus Maolana, Kerajaan Wahanten Girang dan Wahanten Pasisir
digabung menjadi satu, dengan mewisuda Adipati Maulana Hasanuddin sebagai
penguasa tunggal Kerajaan Wahanten (Girang-Pasisir), dengan gelar Panembahan
(Ulama merangkap Umaro). Status Panembahan Maulana Hasanuddin, adalah sebagai
raja daerah di bawah kekuasaan ayahanda Syarif Hidayatullah (Susuhunan Jati
Cirebon). Peristiwa tersebut, berlangsung pada tahun 1526 Masehi.
Untuk memperkuat
posisi pemerintahannya, Panembahan Maulana Hasanuddin mendirikan keraton yang
indah dan megah, terletak di jantung kota di wilayah Wahanten Pasisir (yang
sekarang disebut “Banten Lama”). Untuk mengenang jasa kakeknya, keraton
tersebut diberi nama Surasowan. Sebutan untuk keraton, di kemudian hari,
berkembang menjadi sebutan wilayah kerajaan. Hal ini sejalan dengan kajian
epigraphy prasasti tembaga yang berhuruf Arab, yang dibuat oleh Sultan Haji
alias Sultan Abdul Nasr (1683-1687 Masehi), bahwa nama resmi kerajaan Islam di
Banten adalah Negeri Surasowan.
Pada masa
pemerintahan Panembahan Maulana Hasanuddin di Wahanten (Banten), para kongsi
dagang Portugis sudah jadi mitra niaga. Menurut catatan Fernao Mendes Pinto
(Jurnalis Portugis), pada masa pemerintahan Panembahan Maulana Hasanuddin,
Sultan Demak pernah meminta bantuan Wahanten untuk menyerbu Pasuruan. Maka pada
tanggal 5 Januari 1546, pasukan Wahanten beserta 46 orang tentara Portugis,
berangkat dari perairan Banten menuju wilayah timur, bergabung dengan pasukan
Sunda Kalapa (Jakarta), Pakuwati Cirebon dan Demak.
Perlu dicermati,
berdasarkan catatan Tome Pires dan Fernao Mendes Pinto, para niagawan laut
Portugis, dalam pelayarannya tidak menyertakan Missionaris (Pendeta) penyebar
agama Kristen. Mereka pedagang murni, tanpa bekal kemahiran untuk berperan
sebagai penyebar agama Kristen.
Pada saat itu,
penguasa Kerajaan (Sunda) Pajajaran sudah beralih ke tangan Prabu Nilakendra
(1551-1567 Masehi). Ia penguasa ke-5 di Kerajaan Pajajaran. Menurut naskah kuno
Carita Parahiyangan, Prabu Nilakendra sudah mencampakkan religi Sunda Pajajaran
yang diwariskan oleh leluhurnya. Ia menganut kepercayaan Tantrayana. Setiap
saat, di Keraton Pakuan dimeriahkan oleh pesta pora. Makan enak sambil
minum-minum air memabukan sebagai penyedap makanan, untuk mengawali upacara
spiritual Tantrayana. Tidak ada ilmu yang disukainya, kecuali perihal makanan
lezat yang sesuai dengan kekayaannya.
Bagi Sultan Maulana
Hasanuddin, sebagai cicit Sri Baduga Maharaja, sebagai pewaris tahta Kerajaan
Pajajaran, melihat keberadaan kota Pakuan seperti itu, merasa tidak berkenan.
Pada tahun 1567 Masehi, Panembahan Maolana Hasanuddin mengadakan serangan besar-besaran
ke jantung ibukota Pakuan. Prabu Nilakendra tewas dalam pengungsian.
Syarif Hidayatullah
Susuhunan Jati Cirebon (ayahanda Panembahan Maolana Hasanuddin) wafat pada
tanggal 19 September 1568 Masehi. Untuk menggantikan Syarif Hidayatullah di
Keraton Pakungwati Cirebon, terjadi kemelut, disebabkan anak dan cucunya
sebagai pewaris tahta telah meninggal mendahuluinya. Akhirnya, Senopati Demak
Fadillah Khan, diangkat menjadi Sultan ke-3 Pakungwati Cirebon.
Panembahan Maulana
Hasanuddin, tentunya merasa tidak berkenan. Sebab Fadillah Khan orang Samudra
Pasai yang juga warga Kerajaan Demak. Kekerabatannya dengan Pakungwati Cirebon,
hanya disebabkan sebagai menantu Syarif Hidayatullah. Sesungguhnya, Panembahan
Maulana Hasanuddin lebih berhak atas tahta Pakungwati Cirebon. Oleh sebab itu,
Panembahan Maulana Hasanuddin memproklamirkan negerinya, sebagai Wahanten
Mahardhika (Banten Merdeka), tidak lagi menjadi bawahan Pakungwati Cirebon. Ia
sendiri menyatakan sebagai Sultan Kerajaan Islam Surasowan Wahanten yang
pertama.
Sultan Maulana
Hasanuddin wafat pada tahun 1570 Masehi dalam usia 92 tahun. Digantikan oleh
puteranya, Sultan Maulana Yusuf Pada saat yang sama, Fadillah Khan wafat,
digantikan oleh Panembahan Ratu, sebagai penguasa ke-4 Pakungwati Cirebon.
Menurut catatan Sutjipto, Halwani Michrob, Pane, Uka Tjandrasasmita, Hoesein
Djajadiningrat: Pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf, Kerajaan Islam
Surasowan Wahanten (Banten), berkembang pesat. Strategi pembangunan lebih
dititikberatkan pada pengembangan kota, keamanan wilayah, perdagangan dan
pertanian.
Sedangkan penguasa
di Kerajaan (Sunda) Pajajaran sudah beralih ke tangan Prabu Ragamulya
Suryakancana (1567-1579 Masehi). Raja terakhir ini sudah tidak tinggal di kota
Pakuan (Bogor). Ia memindahkan ibukota pemerintahannya ke wilayah gunung
Pulasari Pandeglang. Ia menjadi rajaresi tanpa mahkota, berfungsi sebagai raja
kecil, hanya bergelar Pucuk Umun Pulasari.
Setelah 9 tahun
menata negerinya, Sultan Maulana Yusuf bersama pasukan Surasowan Wahanten
(Banten), menggempur jantung ibukota Pakuan (Bogor). Tapi penghuni kota Pakuan
sudah menyingkir dan mengungsi. Sultan Maulana Yusuf hanya memboyong Watugilang
sebagai lambang penobatan raja-raja Pajajaran.
Serangan dilanjutkan
ke wilayah pertahanan terakhir sisa laskar Pajajaran di lereng gunung Pulasari
Pandeglang. Dalam pertempuran yang tidak berimbang, Prabu Ragamulya
Suryakancana beserta pengikutnya yang setia, semua tewas binasa.
Kerajaan (Sunda)
Pajajaran lenyap dari muka bumi pada tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka
tahun 1501 Saka, bertepatan dengan tanggal 11 Rabi’ul Awal 987 Hijriyah, atau
tanggal 8 Mei 1579 Masehi.
Kesimpulan.
Peristiwa penaklukan Kerajaan Sunda Pajajaran, oleh Sultan Maulana Hasanuddin
maupun oleh Sultan Maulana Yusuf, tidak didasari oleh “arogansi” penyebaran
agama Islam. Sultan Maulana Hasanuddin ataupun Sultan Maulana Yusuf, sama-sama
memiliki terah dan pewaris tahta Kesultanan Islam Pakungwati Cirebon, sekaligus
pewaris tahta Kerajaan Pajajaran.
Catatan terakhir Menurut hasil penelitian antropologis, etnis Sunda Wiwitan di Mandala Kanekes
(Baduy), ternyata bukan pelarian dari kota Pakuan, juga bukan pelarian dari
gunung Pulasari, bukan pelarian dari Kerajaan Pajajaran. Hanya karena Kebesaran
dan Kemurahan Allah Yang Maha Kuasa, mereka sudah ada sebelum kerajaan-kerajaan
di bumi Wahanten ini berdiri.
Sehingga di dalam
diskusi Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS), tentang “Baduy” di Gedung
Merdeka Bandung, Haji Usep Romli berpendapat, “Kalau begitu, orang Baduy itu
sudah Islami sebelum Islam Nabi Muhammad SAW disebarkan” Wallohualam bissawab. (Team EWN)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.