Mengenang Sang Musafir

 

Gunung Halimun, Edisi Spesial Aspirasi.net – Dua orang sahabat, Aki Kadu Ronyok  dan Aki Karang, belajar di tempat yang sama di daerah Jawa selama bertahun-tahun. Segala rasa suka dan duka mereka
alami bersama. Setelah menyelesaikan Mondok dan
keduanya harus berpisah untuk kembali daerah masing-masing, mereka saling
mengikat janji untuk tetap memupuk persahaban, saling mendoakan dan saling
membantu. Keduanya juga berjanji agar masing-masing menjadikan sahabatnya
sebagai orang pertama yang dimintai pertolongan ketika ia mengalami kesulitan
apapun.
Bertahun-tahun keduanya tidak bertemu, hingga suatu ketika, Aki
Karang
punya masalah besar, usahanya jatuh bangkrut. Ia terlilit utang
besar hingga terancam di ambil alih rumah dan kebun karenanya. Ia pun teringat sahabat karibnya, Aki Kadu
Ronyok.
Aki Karang pun memutuskan untuk pergi menemuinya
sahabat-Nya. Aki Kadu
Ronyok menyambut hangat kedatangan sahabatnya,
Aki Karang, layaknya ia menyambut seorang pejabat.
Ia menyiapkan jamuan dan tempat
istirahat terbaik untuk sahabatnya. Kemudian Aki Karang kembali pulang setelah mendapatkan hal yang ia butuhkan.
Roda kehidupan terus bergulir dan tahun pun berganti tahun.
Aki Kadu
Ronyok pun mengalami masalah besar. Sesuai
perjanjian, ia pertama kali hanya meminta bantuan kepada sahabatnya, Aki KArang.
Ia pun pergi menuju ke Padepokan sahabatnya, di Gunung Payung – Ujung Kulon. Sesampainya di tempat, ia pun mengetuk pintu padepokan
sahabatnya. Aki Karang tidak mau membukakan pintu untuknya; melainkan ia
menyuruh santrinya untuk memberitahukan sahabatnya bahwa ia sedang tidak ada di
rumah.
Aki Kadu
Ronyok pun bersedih dan memutuskan untuk
kembali pulang. Ia sangat merasa kecewa, karena ia mendapati sahabatnya, Aki Karang, telah mengkhianati janjinya untuk saling melindungi dan
saling membantu. Ia bergumam, “Semudah
inikah sahabatku mengkhiati janjinya! Beginikah cara ia membalas kebaikan yang
pernah aku berikan kepadanya?”
Di tengah perjalanan pulang, ia bertemu dengan beberapa
orang yang tidak dia kenal. Mereka mengaku sedang dikejar-kejar oleh petugas
keamanan negara. Mereka menitipkan sebuah kotak kepadanya dan berkata, “Kami
titipkan kotak ini kepadamu. Jika kami tidak kembali dalam tempo dua  hari, bungkusan ini halal dan menjadi
milikmu.”
Aki Kadu
Ronyok setuju untuk menjaga barang yang
mereka titipkan. Setelah tempo dua hari berlalu, mereka tidak kunjung kembali.
Maka, ia pun membuka bungkusan tersebut dan ternyata isinya adalah perhiasan
emas. Aki Kadu Ronyok terpana, merasa bahagia dan bersyukur kepada Allah swt.
atas karunia yang melebihi apa yang semula ia bayangkan dari sahabatnya.
Kemudian ia melanjutkan perjalanannya. Kembali ia mengalami
hal aneh. Ia bertemu dengan seorang nenek tua dan seorang putrinya.
“Wahai Fulan, kami hidup sebatang kara. Tiada kerabat yang
menanggung kehidupan kami. Ini adalah putriku. Jika kamu berkenan dan tertarik
dengannya, silahkan kamu menikahinya dan bawalah kami pulang bersamamu.” Tutur
Sang nenek.
Aki Kadu
Ronyok pun membuka cadar yang menutupi
muka sang gadis. Ternyata ia adalah seorang gadis yang sangat cantik. Ia pun
setuju untuk menikahinya. Ia pun pulang bersama dengan seorang nenek dan
seorang gadits cantik yang akan menjadi istrinya.
Kendati pun Aki Kadu Ronyok tidak mendapatkan bantuan yang
ia butuhkan dari sahabatnya Aki Karang, namun Allah swt. yang Maha Rahman,
tidak pernah menyia-nyiakan sedikut pun kebaikan yang dulu pernah dia lakukan
untuk sahabatnya. Kini ia mendapatkan anugerah dari Allah swt. berupa harta
perhiasan dan seorang istri yang cantik dan solehah, tanpa ia duga sebelumnya.
Beberapa tahun kemudian,  Aki KAdu Ronyok kembali berjaya sehingga
ia  menjadi orang yang kaya. Namun
sebaliknya,Aki Karang  justru mengalami
ujian berat untuk yang kedua kalinya. Perusahaannya kembali mengalami kebangkrutan.
Aki KArang pun teringat sahabatnya, Aki Kadu Ronyok. Ia pun kembali mendatanginya untuk meminta bantuan
darinya.
Sebagaimana semula, Aki Kadu Ronyok menyambut kedatangan sahabatnya dengan sambutan yang meriah.
Bahkan kali ini, ia mengundang seluruh sanak familinya. Namun, kali ini Aki
Kadu Ronyok bermaksud ingin menyindir saudaranya, Aki Karang, di hadapan
seluruh keluarganya, bahwa ia telah menyalahi janji persahabatan di antara
mereka.
Mendengar sindiran sahabatnya, Aki Karang langsung berdiri berusaha untuk mengklarifikasi. Ia berkata
kepada seluruh yang hadir, “Dengarkan pernyataan saya, kemudian silahkan kalian
simpulkan betulkah saya terlah berkhianat kepada sahabatku ini!”
Kemudian ia menjelaskan, “Ketika ia datang ke rumahku kala
itu, sebenarnya saya ada di rumah. Namun, saya tidak tega melihat saudaraku
dalam keadaan bersedih. Saya tidak ingin ia menemuiku untuk memohon bantuan
dariku.”
Kemudian ia berkata, “Ketika ia meninggalkan rumahku,
ditengah perjalanan ia bertemu dengan beberapa orang yang menitipkan sebuah
kotak berisi perhiasan emas, dengan perjanjian kotak tersebut akan menjadi
miliknya ketika mereka tidak kembali. Ketahuilah bahwa mereka adalah
orang-orang suruhanku untuk mengantarkan tersebut untuk saudaraku.”
“Setelah itu, ia bertemu dengan seorang nenek tua beserta
seorang putrinya yang sekarang telah ia nikahi.. Nenek tersebut adalah ibu angkatku dan gadis itu adalah adik yang selama dalam berkholwat menemani ku .”
Subhanallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!!!……… Beliau telah berpulang Kehadirat Allah swt Pada Hari Minggu Tanggal 11 Febuari 2018 (25 Jumadil Akhir 1439 H) “Selamat Meneruskan Perjalanan Berikutnya
Sahabatku “KH.Fuad Halimi Salim” ….. Semua Makhluk yang ada di Bumi
Pasti akan mengalami sebagaimana yang engkau alami karena Hidup ini Hanyalah
Menunggu Mati, Semoga Allah swt menerima Iman dan Islam selalu memberikan
tempat yang Indah di sisi Allah swt…..Aamiin Yaa Allah Yaa Kariim.

اللَّهُمَّ
عَبْدُك رُدَّ عَلَيْك، فَارْأَفْ بِهِ وَارْحَمْهُ، اللَّهُمَّ جَافِ الأَرْضَ
عَنْ جَنْبَيْهِ وَافْتَحْ أَبْوَابَ السَّمَاءِ لِرُوحِهِ، وَتَقَبَّلْهُ مِنْك
بِقَبُولٍ حَسَنٍ، اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ مُحْسِنًا فَضَاعِفْ لَهُ فِي
إحْسَانِهِ، وَإِنْ كَانَ مُسِيئًا فَتَجَاوَزْ عَن سَيِّئَاتِهِ

Artinya : “Ya
Allah hamba-Mu ini telah dikembalikan kepada-Mu, maka kasihilah ia dan
rahmatilah ia, Ya Allah jauhkanlah bumi dari sisinya, dan bukakanlah
pintu-pintu langit untuk ruhnya, dan terimalah ia di sisi-Mu dengan penerimaan
yang baik. Ya Allah jika ia melakukan kebaikan maka lipat gandakanlah
kebaikannya, dan jika ia melakukan keburukan maka abaikanlah keburukannya”.[Mushannaf
Ibnu Abi Syaibah].

 

Hikmah dari kisah
Nilai ukhuwah islamiyah harus senantiasa
terjalin di antara kaum muslimin. Rasa saling mencintai, saling membantu,
saling menanggung, saling menghormati dan saling menjaga kehormatan
masing-masing sampai sang
Malaikatul Maut menjemput, harus selalu terpupuk subur dalam
keadaan apapun. Karena ukhuwah merupakan simpul perdamaian dan kesejahteraan
hidup yang terkuat, setelah kekuatan iman kepada Allah swt.
Aki Karang  mencontohkan nilai ukhuwah yang sejati,
ketika ia tidak tega dan tidak ingin menyaksikan sahabatnya dalam keadaan
bersedih, muram karena ujian hidup yang menimpanya.
Nilai inilah yang selalu ditanamkan oleh Rasulullah saw.
pada diri sahabatnya. Beliau bahkan menegaskan bahwa ukhuwah sebagai barometer
kesempurnaan iman seorang muslim. Beliau bersabda:
لاَ
يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ. رواه
البخاري ومسلم
“Seorang tidak
akan  beriman (tidak mencapai
kesempurnaan
iman) hingga ia senang melihat saudaranya (seiman)
mendapatkan
apa yang ia senangi untuk dirinya sendiri.”
(H.R.
Bukhari & Muslim)
ثَلاَثٌ
مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ
أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ
إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ
يُقْذَفَ فِي النَّارِ. رواه البخاري ومسلم.
“Tiga hal yang
apabila ada pada diri seseorang, maka ia akan merasakan
manisnya
iman: Ketika ia mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya
kepada
yang lain; ketika ia mencintai saudaranya (seiman) hanya karena Allah;
dan
ketika ia benci (tidak suka) kembali ke dalam kekufuran
setelah
diselamatkan oleh Allah swt. darinya, sebagaimana
ia
tidak suka dilemparkan ke dalam api neraka.”
(H.R.
Bukhari & Muslim)
Perjalanan Sang Musafir, 1982 – 2018
Diceritakan oleh Aki Karang, Penulis : Ratu Nadia
Syafira Zahra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.