Surabaya, Aspirasi.net — Guru besar Sosiologi Universitas Airlangga, Prof Dr Hotman Siahaan,
mengatakan bahwa masyarakat Surabaya terperangah dan terkejut akibat serangan
bom ke tiga gereja di Surabaya, Minggu (14/05/18), yang sedikitnya menewaskan 10
orang.
“Karena selama ini, Surabaya dan Jawa Timur tidak pernah
mengalamai gejolak seperti sesudah peristiwa Mojokerto waktu Natal dulu. Dan
selama beberapa tahun terakhir ini kan suasananya sangat kondusif. Jadi
tiba-tiba terjadi (rangkaian) bom ini membuat masyarakat panik dan bingung.”
Prof Hotman merujuk pada serangan bom di Mojokerto pada 24 Desember
2000, yang menewaskan Riyanto, pemuda Banser Nahdlatul Ulama (NU) yang ikut
mengawa Gereja. Eben Haezer di Mojokerto.
Serangan bom atas tiga gereja di Surabaya menewaskan sedikitnya 11
orang.
Di sisi lain, Prof Hotman mempertanyakan peran intelijen di
Indonesia, “Saya kira ada pertanyaan tentang bagaimana intelijen kita
untuk menyikapi ini, mencari penyebabnya. Dan seperti apa monitoring intelijen
terhadap gerakan terorisme ini.” (Yudha)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.