Bandung, Asirasi РMantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, menulis
surat dari Lapas Sukamiskin,
Bandung.Surat itu sebagai klarifikasi terkait kabar hoaks yang menuduh Anas
menggelar pertemuan dengan Firman Wijaya, Mirwan Amir, dan Saan Mustopa di
Lapas Sukamiskin, untuk merancang fitnah terhadap Ketua Umum Demokrat Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY).

Dalam tulisan itu, Anas mengatakan, semua pertemuan di Sukamiskin tercatat
rapi oleh pihak lapas.
Ada juga buku tamu dan CCTV yang bisa dicek, jika benar ada pertemuan
konspirasi
Ketua Presidium Perhimpunan Pergerakan Indonesia ini juga mengeluhkan kabar
hoaks tersebut disebarkan oleh orang di lingkaran SBY tanpa melakukan kroscek
terlebih dahulu terkait kebenarannya. Jubir PPI Tridianto mengatakan, Anas menitipkan surat tersebut saat ia
menjenguk ke Lapas Sukamiskin.Tri mengatakan, Anas tak ingin ada hoaks lagi yang menyerangnya.”Jangan sampai terjadi lagi kasus mobil Harrier yang hoaks itu bikin
status Mas Anas jadi tersangka,” kata Tri.Tri tak ingin ada upaya mengaburkan fakta persidangan dengan upaya membuat
berita hoax pertemuan konspirasi di Sukamiskin. Apalagi, dikaitkan karena Firman Wijaya yang merupakan mantan pengacara
Anas.

“Tidak ada yang namanya mantan pengacara, begitu proses peradilan
selesai, ya selesai tugas Firman membela Mas Anas. Jangan sampai ada pihak yang
mengaburkan fakta persidangan dengan intimidasi proses penegakan hukum dari
luar persidangan,” ujar Tri.
Berikut isi lengkap surat yang ditulis Anas dari Lapas Sukamiskin, seperti
yang disampaikan Tri Dianto :

Salam Keadilan,
Sungguh ini hal yang lucu, lebih lucu ketimbang dagelan. Tetapi karena
sudah disebarkan dan menjadi berita luas, hoax ini perlu dibantah karena bisa
menjadi virus jahat yg merusak dan menyesatkan.

Hampir bersamaan dengan pernyataan pers Pak SBY dan pelaporan Sdr.
Firman Wijaya ke Bareskrim, disebarkan Surat Hoax yang seolah-olah ditulis oleh
Sdr. Mirwan Amir. Inti dari Surat Hoax yang disebarkan itu adalah bahwa ada
pertemuan di Sukamiskin yang dihadiri oleh Anas Urbaningrum, Firman Wijaya,
Mirwan Amir dan Saan Mustopa untuk merancang skenario fitnah kepada Pak SBY dan
Mas Ibas. Pertemuan dan skenario fitnah itulah yg dipercaya terkait dengan
kesaksian Mirwan Amir di persidangan Terdakwa Setya Novanto.

Surat Hoax itu disebarkan oleh sebagian orang di lingkungan Pak SBY
tanpa klarifikasi terlebih dahulu dan kemudian malah digoreng sedemikian rupa.
Bahkan ada tulisan artikel tentang hal tersebut yang dimuat pada website resmi
Partai Demokrat.

Terkait dengan hal tersebut, perlu saya nyatakan bahwa yang disebut
Pertemuan Sukamiskin itu adalah tidak ada dan tidak pernah terjadi. Itu adalah
fitnah keji yg lahir dari imajinasi hitam dan buruk sangka yg tak terkendali.

Sangat mudah untuk membuktikan benar-tidaknya pertemuan itu. Terlalu
banyak cara yg bisa ditempuh, seperti mengecek buku tamu, CCTV yang ada
dimana-mana dan menanyakan langsung kepada warga di Sukamiskin. Tidak ada
tempat kunjungan tamu yg tertutup, tidak ada warga yg bisa merahasiakan
tamunya. Apalagi kalau itu sebuah pertemuan.

Sungguh menyedihkan, ternyata ada yg mempercayai dan menyebarkan hoax
itu. Apalagi kemudian mengembangkan teori konspirasi. Sangat picik dan
mengkhianati semangat dan kampanye anti fitnah dan hoax.

Saya mengerti bahwa jihad mencari keadilan adalah tindakan mulia. Tetapi
mencari keadilan yg disertai dengan (pembiaran penyebaran) hoax dan fitnah
justru berarti membelakangi keadilan itu sendiri dan terkesan lebih
mementingkan gincu.

Hasrat akan citra, kekuasaan, ketenaran dan kekayaan adalah hak setiap
orang. Tetapi untuk mencapainya tidak memerlukan syarat harus menghina dan
menista orang lain dengan (pembiaran penyebaran) hoax dan tuduhan konspirasi
fitnah.

Penting ditegaskan bahwa saya adalah korban kesaksian hoax tentang mobil
Harrier dan sebagainya, yang dirancang sedemikian rupa, sehingga kemerdekaan
saya dan semuanya telah dirampas dengan cara yang batil dan zalim. Sakitnya
masih harus saya dan keluarga jalani sampai hari ini. Korban fitnah tidak akan
menyakiti orang lain dengan fitnah. Mengapa? Karena saya percaya takdir dan
datangnya hari keadilan, tetapi tidak dengan hoax dan fitnah. Saya tidak tega
dan tidak suka memakan bangkai saudaranya sendiri. Itu menjijikkan
!
Jadi, sudahlah. Apalagi yang kurang?
This is not my war. Ini hanya pernyataan kebenaran.

Salam Kebenaran,
Sukamiskin, 10 Pebruari 2018
Anas Urbaningrum

SBY sebelumnya telah melaporkan pengacara Setya Novanto, Firman Wijaya, ke
polisi atas tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik.
SBY mengaku tahu bahwa ada pertemuan antara Mirwan dan Firman Wijaya.
Pertemuan itu terlaksana sebelum persidangan dugaan tindak pidana korupsi
e-KTP, di mana Mirwan Amir hadir sebagai saksi.

Dalam sidang, mantan Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR itu
menyebut nama SBY.
“Saya tahu, saya mendapatkan informasi dari sumber yang layak dipercaya
(bahwa) menjelang persidangan, di mana terjadi tanya jawab antara Firman Wijaya
dan Mirwan Amir, ada sebuah pertemuan dihadiri sejumlah orang,” kata SBY,
di Kantor DPP Demokrat, Jakarta, Selasa (6/2/2018).
SBY menduga pertemuan sejumlah orang itu patut diduga menjadi cikal-bakal
munculnya pernyataan Mirwan Amir di dalam persidangan.
Meski begitu, SBY menambahkan, belum waktunya informasi tersebut ia buka
secara gamblang kepada masyarakat luas.
SBY yakin informasi ini akan membuat publik geger. (Puteri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.